Author Archive

Iga_BBQSudah sepantasnya kita menyajikan sesuatu yang unik bagi keluarga kita. Terutama disaat kita dapat menikmati saat-saat santai bersama seluruh anggota keluarga ^o^ Kirim Resep Ke Teman
Sumber : Majalah Femina
Disajikan Untuk : 6 Orang

Bahan-Bahan : 1 lt air untuk merebus
1 kg iga sapi impor, potong setiap ruas iga sepanjang 10 cm

Bahan Saus BBQ, aduk rata:
150 ml saus cabai botolan
1 sendok makan cuka apel
2 sendok makan gula palem
1 sendok makan mustard

Bahan Coleslaw, aduk rata:
200 gram daun kol, iris halus
100 gram wortel, parut agak kasar
25 gram batang seledri besar, iris melintang tipis

Bahan Saus Coleslaw, aduk rata:
50 gram mayones, siap beli
1 sendok makan air jeruk lemon
1 sendok teh mustard pasta

Cara Mengolah :
Cara Membuat Coleslaw:
1. Coleslaw: Aduk rata bahan coleslaw dan sausnya.

Cara Membuat Iga BBQ:
1. Rebus iga sapi hingga empuk. Angkat, sisihkan.
2. Olesi iga rebus dengan saus BBQ.
3. Panggang dalam oven panas bersuhu 200 Derajat Celcius selama 25 menit hingga matang. Angkat.
4. sajikan iga panggang segera bersama coleslaw selagi hangat.

diansastroKonsep perempuan dalam televisi lambat laun menjadi salah satu konsideran gerakan feminis dunia sebagai pengembangan wacana perempuan dalam media dan perempuan sebagai audiens.

Dalam menganalisa fenomena perempuan dan dunia pertelevisian lewat analisa tanda, para feminis sedikit banyak dipengaruhi pemikiran teori-teori semiotik dari Roland Barthes, Umberto Eco dan Ferdinand de Saussure. Sedangkan untuk kritik ideologinya terdapat pula beberpa pengaruh tokoh marxis seperti Louis Althuisser di Perancis dan Antonio Gramsci di Itali.

Kritik atas Ideologi Televisi

Televisi adalah medium fiktif yang sangat kuat dalam masyarakat kontemporer. Televisi sebagai produk lahir dari hasil kombinasi antara teknologi, industri , serta event ideologis dan politis dalam masyarakat yang oleh Althuiser diklasifikasikan sebagai ‘salah satu perangkat ideologis negara’ (ideological state apparatures). Ideologi dari kelompok dominan ini menurut Gramsci harus diakses lewat media tertentu dan diupayakan agar ‘selama’ mungkin sehingga sulit dilacak.

Program-program acara televisi sebagai salah satu garda kekuasaan (gate-keepers) menjadi perangkat ideologis yang berbahaya karena berbeda dengan buku dan koran, wacana kekuasaan dalam pertelevisian sangat ‘sulit dibaca’. Setiap orang senang nonton televissi, padahal televissi penuh dengan permainan ideologis yang muncul dalam kontradiksi dan penyelesaiannya. Perempuan lalu di intergrasikan dalam cara televisi memandang sebuah perspektif budaya, pada akhirnya perempuan beserta seluruh relasinya ‘diproduksi’ oleh televisi menjadi ‘perangkat ideologi dominan’ tersebut.

Struktur dari kekuasaan sosial dan kontrol ini merambah seluruh kehidupan perempuan baik dewasa maupun remaja. Kesenangan dan hidup perempuan baik itu melalui iklan, melodramaa, acara kuis dan lainnya akhirnya di determinasikan, tanpa memberi kesempatan bagi perempuan untuk mengkontruksikan makna yang barasal dari dirinya sendiri. Dalam televisi perempuan cenderung diharapkan menjadi partisipasi periferal sebuah budaya.

Caren J. Deming mendeteksi problem dari pengalaman perempuan dan visi dari ‘narasi dominan’ yaitu para eksekutif laki-laki. Yang jadi pertayaan sekaligus kritik terhadap dunia televisi adalah ‘fiksi siapah ini?’ dan ‘kultur apa yang mereka sajikan?’. Televisi seolah menyajikan kehidupan sosial perempuan yang sebenarnya, bagaimana karakter perempuan yang seharusnya serta bagaimana perempuan harus ‘berpenampilan”. Namun nyatanya itu semua hanya kehidupan dalam dimensi fantasi. Karena itu perempuan harusnya menolak kebenaran yang dicetak oleh angan-angan dan terminologi laki-laki dalam dunia pertelevisian.

Cinta dalam ‘Kotak Idiot’

Caren J, Deming dalam kritiknya terhadap televisi mengumpat bahwa cinta dalam romantikan Amerika menurut versi kotak idiot (televisi) sebagai problematika sosial baik dalam melodrama maupun komik karena bersifat mengecoh dan selalu berupaya agar perempuan ‘tetap diam di tempatnya’, seperti di dapur dan di kamar tidur. Karakter tokoh perempuan juga sangat jauh dari realita dan hampir tidak mungkin terjadi dalam dunia nyata. Misalnya tokoh jahat Alexis dalam film seri ‘Dallas’, ketika diadakan survey, hampir seluruh responden menyatakan bahwa dalam dunia nyata karakter seperti Alexis tidak mungkin ada.

Paling tidak ada tujuh modus dunia pertelevisian yang berdampak merugikan bagi kaum perempuan, antara lain:

1. Mengartikulasikan garis besar dominasi kultur yang mapan tentang hakikat dari realitas.
2. Mengimplementasikan kultur individual ke dalam sistem nilai-nilai dominan.
3. Merayakan kultur individual yang dianggap representatif ke dalam dunia ‘di luar sana’.
4. Menyakinkan bahwa kebudayaan dominan sudah dikonfirmasikan lewat ideologi dan mitologi sehingga cukup sahih untuk dipresentasikan di layar kaca.
5. Meng-ekspos rasa dari budaya itu sendiri yang menjadi hasil dari kondisi dari budaya yang berubah pada dunia ‘di luar sana’.
6. Menyamakan status pihak dominan dan identitas individu yang dijamin oleh budaya secara keseluruhan.
7. Menstransmisikan makna-makna yang diproduksi ini ke segenap anggota masyarakat secara lebih luas.

Perempuan dan Konsep Keluarga menurut Iklan

Bagaimana TV mendefiniskan budaya perempuan, hampir tidak pernah lepas dari ‘konsep keluarga’. Karenanya, dalam pertelevisian, perempuan menjadi identik dengan kehidupan keluarga. Televisi membujuk kaum perempuan agar bersikap kompromis dengan kesimpulan yang ditawarkan, perempuan diajak untuk ‘terobsesi’ pada hidup keluarga, emosi perempuan juga didefinisikan oleh kondisi psikis para eksekutif laki-laki yang bertengger di belakang iklan serta cara-cara televisi itu. Ini berarti dalam dunia pertelevisian perempuan telah terkooptasi oleh imaginasi maskulinitas.

Sudah saatnya perempuan bersikap kritis dan menyadari bahwa dalam televisi, kepentingan perempuan terperangkap lagi. Peran-peran perempuan di sana menjadi ambigu. TV komersial menginginkan perempuan bukan sebagai perempuan, tetapi sebagai pengkonsumsi iklan. TV komersial menjadi bagian intergral dari dunia belanja modern. Perempuan oleh industri TV ‘bisa diprediksi’. Industri TV modern dengan mudahnya mencetak perempuan yang ‘terprediksi’ dan perempuan lalu menjadi ‘ibu yang terpogram’. Ia identik dengan komoditas barang tertentu, misalnya sabun cuci merek anu, atau perhiasan merk anu, bahkan ia sudah ditentukan akan membeli barang di tempat tertentu. Ketika ia memiliki anak, televisi juga telah memprogram dia untuk membiarkan anaknya menonton film kartun seperti Power Rangers dan Winnie the Pooh dan selanjutnya membeli pernik-pernik lain dengan karakter yang sama dengan film kartun tersebut.

Televisi sesungguhnya tidak menampilkan kebutuhan perempuan, tapi justru kebutuhan dari para pengiklan (advertisers). Karenanya perempuan harus di set-up dalam terminologi laki-laki sekalgus agar mendukung kepentingan para pengusaha tersebut, perempuan harus mengorientasikan hidupnya melulu pada keluarga, serta berorientasi pada masyarakat yang konsumtif. Perempuan kian direfleksikan dalam pembagian gender yang tidak adil dalam masyarakat. Sementara program-program yang terkooptasi dalam terminologi laki-laki dan masalah tersubordinatnya peran perempuan dalam keluarga justru tidak pernah dipertanyakan.

(Disarikan dari ‘Televisioan and Women’s Culture, The Politics of the Popular’ editor: Marry Ellen Brown)

http://partisipasiperempuan.uni.cc

Demi keadilan, kesetaraan, kemanusiaan dan kecantikan.

Saya pikir, kita patut gembira menyambut maraknya kehadiran perempuan penulis di jagat perbukuan Indonesia. Semakin banyak perempuan yang bisa mengekspresikan dan menyebarkan luaskan gagasannya lewat tulisan adalah sinyal positif semakin dekatnya kita pada masyarakat yang berkeadilan.

Disadari atau tidak, struktur masyarakat yang tidak adil antara perempuan dan laki-laki masih terjadi pada masyarakat kita. Masalah ketidakadilan gender bukan semata masalah individu.Ada seperangkat paradigma yang sudah tertanam di kepala laki-laki yang berlaku tidak adil terhadap perempuan. Ini adalah persoalan masyarakat, budaya dan negara secara keseluruhan sebagai sebuah sistem sosial.

Bahasa mencerminkan masyarakat yang menggunakannya. Maka pada tataran masyarakat di mana terdapat struktur yang bias gender dan cenderung tidak adil terhadap perempuan, hal itu pulalah yang akan tercermin dalam bahasanya. Sebagai contoh, kita masih saja menggunakan istilah Wanita Tuna Susila(WTS) yang ditujukan pada perempuan pekerja seks. Namun istilah Laki-Laki Tuna Susila sebagai ‘pembeli’ jasa para perempuan pekerja seks atau laki-laki mucikari kerap tidak digunakan. Padahal kegiatan prostitusi hanya akan berlangsung sesuai hukum permintaan dan penawaran, yang melibatkan perempuan dan laki-laki. Lantas mengapa perempuan yang digelari ‘tuna susila’?

Menurut Michel Foucalt seorang filsuf mahzab Post-strukturalis, bahasa merangkum pengetahuan tentang dunia. Bila hendak dikritisi, bahasa yang kita gunakan bukanlah media yang netral melainkan representasi yang berperan dalam reproduksi makna. Maka bicara bahasa tidak dapat dilepaskan dari hubungan kekuasaan terutama dalam pembentukan subjek dan berbagai tindakan representasi dalam masyarakat.

Dalam masyarakat yang patriarki, pihak perempuanlah yang mengalami lack of power atau kelangkaan kekuasaan. Maka untuk memperbaiki struktur masyarakat yang lebih adil, strategi yang harus ditempuh perempuan adalah bicara! Menurut Foucalt untuk melawan, perempuan harus menjadi ‘subjek yang berbicara’ yang juga berarti ‘subjek dari pernyataan’.

Diam dan bungkam akan menjadi tempat berteduh bagi kekuasaan, maka perempuan harus tampil, bicara dan menolak dijadikan objek. Seperti yang dikatakan Helen Cixous-feminis Prancis, sangat penting bagi perempuan untuk memecah kebisuan teks dengan melancarkan strategi yaitu bicara dan menulis.

Maka itu penting seorang perempuan untuk tampil sebagai subjek, dalam hal ini sebagai penulis. Kita sebagai perempuan memiliki kewajiban moril untuk menyuarakan suara-suara perempuan yang selama ini terbisukan demi dunia yang lebih adil, lebih setara, dan lebih manusiawi (bagi perempuan) seperti yang kita impi-impikan.

Kemudian, menulislah demi kecantikan kita. Fatimah Mernissi seorang feminis Marokko menulis dalam bukunya Women’s Rebellion and Islamic Memory bahwa menulis lebih baik ketimbang operasi pengencangan kulit wajah atau krim pelembab.

Usahakan menulis setiap hari. Niscaya kulit Anda akan menjadi segar

kembali akibat kandungan manfatnya yang luar biasa! Dari saat Anda

bangun, Menulis meningkatkan aktivitas sel. Dengan coretan pertama

di atas kertas kosong, kantung di bawah mata Anda akan segera

lenyap dan kulit Anda akan terasa segar lagi. Menjelang tengah hari,

ia berada pada kondisi prima. Dengan kandungan aktifnya,

menulis menguatkan struktur kulit ari Anda. Pada akhir hari, kerut-

kerut Anda sudah memudar dan wajah Anda menjadi lembut kembali.

Rahasia yang terdapat dalam menulis adalah membuat seorang yang acuh tak acuh menjadi pembaca yang penuh perhatian. Menurut Fatimah begitu kita telah belajar menulis-yaitu menyampaikan suatu pesan yang dekat dengan hati kita- orang lain yang sebelumnya acuh tak acuh, kini akan menaruh lebih banyak perhatian untuk mengetahui apa yang harus kita katakan. Sehingga kita tidak perlu berteriak-teriak agar didengarkan. Untuk mengubah orang-orang di sekitar kita, pertama-tama kita harus mengubah diri kita sendiri. Perubahan orang lain hanyalah konsekuensi dari perubahan sikap kita dalam memandang diri kita dan orang lain. Kita harus percaya bahwa yang hendak kita sampaikan adalah sesuatu yang penting dan karenanya harus disampaikan dengan cara yang baik pula.

Tentunya kita tidak mengadopsi teori Fatimah Mernissi, Menulis = Obat Mujarab untuk Awet Muda, tersebut secara harfiah. Kecantikan adalah sesuatu yang sifatnya inside-out. Kita bisa menjadi cantik karena sikap hidup kita yang positif dan produktif dalam berkarya. Tinggalkan krim wajah dan pil diet. Ambil pulpen dan kertas, mulailah menulis. Menulis apa saja. Ketidaknyamanan kita ketika disuit-suiti laki-laki di jalan, kejengkelan kita ketika ada yang mengomentari bagian tubuh kita yang pribadi, kemarahan kita membaca berita perkosaan perempuan di koran. Apa saja.

Maka perempuan, menulislah! Demi impian-impian kita tentang dunia yang lebih adil, lebih setara, dan lebih berkemanusiaan buat perempuan. Biar dunia ini bisa mendengar kegelisahan-kegelisahan kita, pengalaman-pengalaman kita, ide-ide gila kita, para perempuan. Dan tentu saja menjadi lebih cantik dengan standar yang kita buat sendiri. Tidak melulu berkulit putih, bertubuh seksi, dan berambut lurus panjang seperti standar yang dibuat oleh masyarakat patriarkat ini!

(tulisan ini dimuat di Jurnal Herstory, cerita perempuan edisi 2 tahun 2002, sebuah jurnal yang diterbitkan LSM Institut Perempuan, Bandung dengan beberapa penyesuaian)

http://bukuterbuka.multiply.com

Diperlukan upaya lintas sektoral serta jalur koordinasi antara Direktorat Pendidikan Masyarakat dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang memiliki perhatian pada pendidikan kaum marginal untuk memberdayakan kaum perempuan melalui pemberian pengetahuan dan ketrampilan untuk melepaskan diri dari belenggu kebodohan dan keterbelakangan dan mengarahkan perempuan sebagai subjek dalam aktivitas publik sesuai dengan kompetensi yang tidak menyimpang dari kodratnya.

Maka terselenggaralah Temu Lembaga Peduli Pendidikan Perempuan yang diadakan oleh Direktorat Pendidian Masyarakat, Ditjen Pendidikan Luar Sekolah, di Hotel Utami, Surabaya, Kamis (24/5).

Direktur Kursus dan Kelembagaan, Dirjen PLS, Depdiknas, Triyadi mengatakan, kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka memberikan saran kebijakan kepada Direktorat Pendidikan Masyarakat guna merumuskan sebuah Rencana Aksi Nasional akan pentingnya pendidikan bagi perempuan yang berperspektif gender untuk kemudian memprogramkannya dalam renstra pendidikan luar sekolah. Hal ini mengingat bahwa tingkat pendidikan perempuan masih rendah, menurut data yang ada, terdapat 10,7 persen perempuan usia 10 – 40 tahun masih menyandang buta huruf dikarenakan tidak pernah sekolah, tidak tamat SD atau pernah mengikuti program keaksaraan tetapi kembali buta huruf lagi karena tidak adanya program lanjutan.

Kondisi ini dikatakannya mempersulit upaya memberdayakan kaum perempuan melalui pemberian pengetahuan dan ketrampilan untuk melepaskan diri dari belenggu kebodohan dan keterbelakangan. Untuk itulah diperlukan upaya lintas sektoral serta jalur koordinasi antara Direktorat Pendidikan Masyarakat dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang memiliki perhatian pada pendidikan kaum marginal. Upaya tersebut harus mengarah kepada pemberdayaan perempuan sehingga keberadaannya tidak hanya sekedar jadi objek bagi laki-laki untuk urusan dapur dan kasur semata, tetapi juga sebagai subjek dalam aktivitas publik sesuai dengan kompetensi yang tidak menyimpang dari kodratnya.

Demikian dikatakan oleh pejabat asal Klaten, Jawa Tengah ketika membuka acara Temu Lembaga Peduli Pendidikan Perempuan tersebut. Selanjutnya, dikatakan pula bahwa Rencana Aksi Nasional ini memusatkan kepada upaya penyadaran perempuan usia produktif bagi keluarga miskin, melalui peningkatan pengetahuan dasar.

Kegiatan yang diikuti oleh 45 orang perwakilan dari LSM se Indonesia ini di fasilitasi oleh Subdit pendidikan perempuan, Direktorat pendidikan masyarakat, diharapkan bisa membangun jaringan kemitraan antara LSM dan Depdiknas melalui program pendidikan luar sekolah, diantaranya penyaluran dana block grant dan life skills. Diharapkan, nantinya kegiatan ini bisa berubah menjadi sebuah gerakan nasional seperti halnya gerakan Keluarga Berencana, yang nyatanya bisa berhasil mengendalikan laju pertumbuhan penduduk serta mengurangi Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi.

Sementara itu, dalam arahannya, Lilik Setyowati, Kasubdit Pendidikan Perempuan mengatakan bahwa Rencana aksi Nasional ini dalam rangka mempromosikan kesetaraan perempuan dalam memperoleh pendidikan dengan tujuan untuk menghapus disparitas gender dalam pendidikan. Hal ini sejalan dengan Deklarasi Beijing (Beijing Declaration and Platform for Action) yang menyebutkan bahwa Negara-negara anggota PBB berketetapan menjamin akses dan perlakuan yang sama antara laki-laki dan perempuan dalam pendidikan, kesehatan serta peningkatan ekonomi kaum perempuan.

Namun beliau juga menyadari, dalam kenyataannya, hasil dari berbagai kesepakatan yang dibuat belum secara optimal terwujud, terutama dalam memenuhi akses pendidikan yang merata dan adil bagi perempuan. Artinya, disini pemberian pendidikan untuk kaum perempuan marginal tidak hanya sekedar diberi ketrampilan fungsional saja, namun perlu juga diberikan pendidikan penyadaran tentang peran-peran yang bisa dimainkan, baik di ranah domestik maupun di ranah publik. Hal ini sebagai upaya membongkar relasi kekuasaan antara laki-laki dan perempuan, seperti budaya patriarki serta masih adanya kesalahan penafsiran ajaran agama terhadap masalah kesetaraan gender.

Sayangnya, kadang perempuan sendiri yang karena ketidak berdayaannya, mau menyediakan diri untuk dinomor duakan, bahkan rela dijadikan hiburan lelaki. “Untuk itulah RAN sebagai gerakan bersama merespon masalah kesenjangan perempuan dalam pendidikan sesuai pemetaan masalah di tingkat lokal.” Kata perempuan asli Trenggalek ini mengakhiri arahannya. [*]
[Ebas/Widya]
(red)

Sumber: BP-PLSP Regional IV Surabaya

BENGKULU–MI: Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan (Meneg PP) Meutia Farida Hatta mengatakan, jumlah penyandang buta aksara dari kalangan perempuan lebih banyak dua kali lipat jika dibandingkan dengan laki-laki.

Banyaknya perempuan yang masih buta aksara harus menjadi perhatian kita semua, kata Meutia yang juga Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Partai Keadilan dan Persatuan (PKP) Indonesia saat temu kader PKP Indonesia se-Provinsi Bengkulu, Sabtu (13/9).

Penduduk yang masih buta aksara saat ini sekitar 10,1 juta orang dan tersebar di berbagai provinsi termasuk Bengkulu. Dari jumlah itu sebagian besar merupakan perempuan.Tingginya jumlah peremuan buta aksara, menurut dia, tidak terlepas dari masih adanya kesejanjagan jender.

Agar jumlah perempuan buta aksara bisa terus ditekan,pemberdayaan peremuan harus menjadi prioritas dan didukung semua kalangan, katanya.

Perempuan, ujar Meneg PP, merupakan aset bangsa yang harus dipintarkan agar bisa lebih beperan aktif dalam pembangunan serta tidak menjadi beban baik bagi keluarga maupun negara.

Ia juga menegaskan, perempuan pintar tidak akan menjadi saingan bagi laki-laki tapi justru akan menjadi rekanan kaum laki-laki.

Menurutnya, iistri yang bodoh hanya akan menjadi beban karena tidak bisa berbuat apapun untuk mendukung suaminya. Sebaliknya, istri yang pintar akan menjadi rekanan bagi suami yang bisa memberikan pertimbangan dan saran bagi suami dalam mengarungi rumah tangga serta membantu mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Meutia juga mengaku prihatin dengan masih tingginya angka kematian ibu melahirkan di Indonesia, yang salah satunya karena masih kurangnya pemberdayaan perempuan.

Saat ini, dari setiap 100 ribu ibu melahirkan sebanyak 307 di antaranya meninggal. Kondisi tersebut tidak hanya terjadi pada kalangan keluarga kurang mampu, tapi juga menengah ke atas.

Belum lama ini saya berkujung ke satu daerah yang tingkat kehidupan masyarakatnya sudah mapan. Saya tanya apakah masih ada ibu meninggal saat melahirkan, dan dijawab masyarakat minggu lalu ada bahkan dua orang, itu bukti masih kurangnya pemberdayaan perempuan, katanya.

Masalah kematian, lanjutnya, memang takdir tapi ada upaya untuk mencagahnya diantaranya memberikan asupan gizi yang cukup dan terus memnatau kondisi kesehatannya selama mengandung sampai melahirkan. (Ant/OL-01)

Sumber: Media Indonesia Online

Karpet sering digunakan orang untuk mempercantik suatu ruangan. Biasanya ruangan yang berkarpet pun terkesan hangat dan nyaman. Tapi bila tidak dirawat, karpet menjadi cepat kusam dan tak cantik lagi. Lebih gawat lagi, karpet yang tidak dibersihkan sering menjadi sarang kuman dan tungau penyebab alergi. Sudah itu, baunya apek pula.

Berikut ini adalah cara-cara untuk merawat karpet agar terlihat tetap cantik, bersih dan tidak cepat rusak.
1. Gunakan mesin penyedot debu (vacuum cleaner) untuk membersihkan karpet minimal 3 kali seminggu.
2. Karpet dicuci bersih dengan menggunakan sabun khusus untuk karpet setidaknya 6 bulan sekali. Jikalau merasa terlalu berat untuk mencuci sendiri, Anda bisa memasukkan karpet ke jasa binatu. Ongkosnya tak seberapa mahal, sekitar Rp.50.000 untuk karpet berukuran sedang.
3. Ubah posisi karpet 2-3 bulan sekali. Maksudnya, putar karpet sedemikian rupa sehingga bagian yang sering terinjak atau dilewati orang bisa berganti posisi.
4. Perhatikan letak jendela dan arah sinar matahari yang masuk ke ruangan tersebut. Warna karpet akan cepat memudar jika terkena langsung oleh sinar matahari. Untuk mengatasinya, ubah posisi karpet 2-3 bulan sekali. Hal ini bisa pula diatasi dengan menutup jendela atau menurunkan vitrage.
5. Bau apek pada karpet dapat diatasi dengan memercikkan sedikit baking soda ke atas karpet. Tunggu 30 menit, kemudian baru dibersihkan dengan menggunakan penghisap debu.

Untuk mengatasi bau yang lebih tajam, cucilah bagian yang berbau tersebut dengan 20 bagian cuka dicampur dengan 80 bagian air. Gunakan lap bersih yang dibasahi dengan larutan air cuka tadi. Tidak dianjurkan menggosok bagian itu dengan sikat. Noda yang bau harus segera dibersihkan. Semakin lama noda tersebut menempel, semakin sulit membersihkannya.

Khusus untuk karpet baru. Saat karpet baru dipasang atau dibentang di lantai, semacam debu berterbangan. Bila terhisap, debu ini bisa menyebabkan iritasi mata, tenggorokan gatal dan bahkan pusing-pusing pada sebagian orang. Meskipun, sampai saat ini belum diketahui dengan jelas apakah debu tersebut berbahaya untuk kesehatan atau tidak, tapi efeknya sungguh mengganggu.
Untuk mengatasinya, sebelum karpet dikirim ke rumah kita, mintalah toko karpet untuk membersihkan/ menghisap debu karpet tersebut. Pada saat memasang karpet, terutama karpet yang dipasang melapisi seluruh lantai ruangan, usahakan agar ventilasi di ruangan tersebut betul-betul baik. Kalau perlu buka pintu dan seluruh jendela. Setelah karpet dipasang, sebaiknya jangan menggunakan ruangan tersebut setidaknya selama 72 jam.

Pencarian
May 2012
M T W T F S S
« Dec    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
Waktu Sholat
    Waktu Sholat hari ini di
    ....