Archive for the ‘Opini’ Category

diansastroKonsep perempuan dalam televisi lambat laun menjadi salah satu konsideran gerakan feminis dunia sebagai pengembangan wacana perempuan dalam media dan perempuan sebagai audiens.

Dalam menganalisa fenomena perempuan dan dunia pertelevisian lewat analisa tanda, para feminis sedikit banyak dipengaruhi pemikiran teori-teori semiotik dari Roland Barthes, Umberto Eco dan Ferdinand de Saussure. Sedangkan untuk kritik ideologinya terdapat pula beberpa pengaruh tokoh marxis seperti Louis Althuisser di Perancis dan Antonio Gramsci di Itali.

Kritik atas Ideologi Televisi

Televisi adalah medium fiktif yang sangat kuat dalam masyarakat kontemporer. Televisi sebagai produk lahir dari hasil kombinasi antara teknologi, industri , serta event ideologis dan politis dalam masyarakat yang oleh Althuiser diklasifikasikan sebagai ‘salah satu perangkat ideologis negara’ (ideological state apparatures). Ideologi dari kelompok dominan ini menurut Gramsci harus diakses lewat media tertentu dan diupayakan agar ‘selama’ mungkin sehingga sulit dilacak.

Program-program acara televisi sebagai salah satu garda kekuasaan (gate-keepers) menjadi perangkat ideologis yang berbahaya karena berbeda dengan buku dan koran, wacana kekuasaan dalam pertelevisian sangat ‘sulit dibaca’. Setiap orang senang nonton televissi, padahal televissi penuh dengan permainan ideologis yang muncul dalam kontradiksi dan penyelesaiannya. Perempuan lalu di intergrasikan dalam cara televisi memandang sebuah perspektif budaya, pada akhirnya perempuan beserta seluruh relasinya ‘diproduksi’ oleh televisi menjadi ‘perangkat ideologi dominan’ tersebut.

Struktur dari kekuasaan sosial dan kontrol ini merambah seluruh kehidupan perempuan baik dewasa maupun remaja. Kesenangan dan hidup perempuan baik itu melalui iklan, melodramaa, acara kuis dan lainnya akhirnya di determinasikan, tanpa memberi kesempatan bagi perempuan untuk mengkontruksikan makna yang barasal dari dirinya sendiri. Dalam televisi perempuan cenderung diharapkan menjadi partisipasi periferal sebuah budaya.

Caren J. Deming mendeteksi problem dari pengalaman perempuan dan visi dari ‘narasi dominan’ yaitu para eksekutif laki-laki. Yang jadi pertayaan sekaligus kritik terhadap dunia televisi adalah ‘fiksi siapah ini?’ dan ‘kultur apa yang mereka sajikan?’. Televisi seolah menyajikan kehidupan sosial perempuan yang sebenarnya, bagaimana karakter perempuan yang seharusnya serta bagaimana perempuan harus ‘berpenampilan”. Namun nyatanya itu semua hanya kehidupan dalam dimensi fantasi. Karena itu perempuan harusnya menolak kebenaran yang dicetak oleh angan-angan dan terminologi laki-laki dalam dunia pertelevisian.

Cinta dalam ‘Kotak Idiot’

Caren J, Deming dalam kritiknya terhadap televisi mengumpat bahwa cinta dalam romantikan Amerika menurut versi kotak idiot (televisi) sebagai problematika sosial baik dalam melodrama maupun komik karena bersifat mengecoh dan selalu berupaya agar perempuan ‘tetap diam di tempatnya’, seperti di dapur dan di kamar tidur. Karakter tokoh perempuan juga sangat jauh dari realita dan hampir tidak mungkin terjadi dalam dunia nyata. Misalnya tokoh jahat Alexis dalam film seri ‘Dallas’, ketika diadakan survey, hampir seluruh responden menyatakan bahwa dalam dunia nyata karakter seperti Alexis tidak mungkin ada.

Paling tidak ada tujuh modus dunia pertelevisian yang berdampak merugikan bagi kaum perempuan, antara lain:

1. Mengartikulasikan garis besar dominasi kultur yang mapan tentang hakikat dari realitas.
2. Mengimplementasikan kultur individual ke dalam sistem nilai-nilai dominan.
3. Merayakan kultur individual yang dianggap representatif ke dalam dunia ‘di luar sana’.
4. Menyakinkan bahwa kebudayaan dominan sudah dikonfirmasikan lewat ideologi dan mitologi sehingga cukup sahih untuk dipresentasikan di layar kaca.
5. Meng-ekspos rasa dari budaya itu sendiri yang menjadi hasil dari kondisi dari budaya yang berubah pada dunia ‘di luar sana’.
6. Menyamakan status pihak dominan dan identitas individu yang dijamin oleh budaya secara keseluruhan.
7. Menstransmisikan makna-makna yang diproduksi ini ke segenap anggota masyarakat secara lebih luas.

Perempuan dan Konsep Keluarga menurut Iklan

Bagaimana TV mendefiniskan budaya perempuan, hampir tidak pernah lepas dari ‘konsep keluarga’. Karenanya, dalam pertelevisian, perempuan menjadi identik dengan kehidupan keluarga. Televisi membujuk kaum perempuan agar bersikap kompromis dengan kesimpulan yang ditawarkan, perempuan diajak untuk ‘terobsesi’ pada hidup keluarga, emosi perempuan juga didefinisikan oleh kondisi psikis para eksekutif laki-laki yang bertengger di belakang iklan serta cara-cara televisi itu. Ini berarti dalam dunia pertelevisian perempuan telah terkooptasi oleh imaginasi maskulinitas.

Sudah saatnya perempuan bersikap kritis dan menyadari bahwa dalam televisi, kepentingan perempuan terperangkap lagi. Peran-peran perempuan di sana menjadi ambigu. TV komersial menginginkan perempuan bukan sebagai perempuan, tetapi sebagai pengkonsumsi iklan. TV komersial menjadi bagian intergral dari dunia belanja modern. Perempuan oleh industri TV ‘bisa diprediksi’. Industri TV modern dengan mudahnya mencetak perempuan yang ‘terprediksi’ dan perempuan lalu menjadi ‘ibu yang terpogram’. Ia identik dengan komoditas barang tertentu, misalnya sabun cuci merek anu, atau perhiasan merk anu, bahkan ia sudah ditentukan akan membeli barang di tempat tertentu. Ketika ia memiliki anak, televisi juga telah memprogram dia untuk membiarkan anaknya menonton film kartun seperti Power Rangers dan Winnie the Pooh dan selanjutnya membeli pernik-pernik lain dengan karakter yang sama dengan film kartun tersebut.

Televisi sesungguhnya tidak menampilkan kebutuhan perempuan, tapi justru kebutuhan dari para pengiklan (advertisers). Karenanya perempuan harus di set-up dalam terminologi laki-laki sekalgus agar mendukung kepentingan para pengusaha tersebut, perempuan harus mengorientasikan hidupnya melulu pada keluarga, serta berorientasi pada masyarakat yang konsumtif. Perempuan kian direfleksikan dalam pembagian gender yang tidak adil dalam masyarakat. Sementara program-program yang terkooptasi dalam terminologi laki-laki dan masalah tersubordinatnya peran perempuan dalam keluarga justru tidak pernah dipertanyakan.

(Disarikan dari ‘Televisioan and Women’s Culture, The Politics of the Popular’ editor: Marry Ellen Brown)

http://partisipasiperempuan.uni.cc

Demi keadilan, kesetaraan, kemanusiaan dan kecantikan.

Saya pikir, kita patut gembira menyambut maraknya kehadiran perempuan penulis di jagat perbukuan Indonesia. Semakin banyak perempuan yang bisa mengekspresikan dan menyebarkan luaskan gagasannya lewat tulisan adalah sinyal positif semakin dekatnya kita pada masyarakat yang berkeadilan.

Disadari atau tidak, struktur masyarakat yang tidak adil antara perempuan dan laki-laki masih terjadi pada masyarakat kita. Masalah ketidakadilan gender bukan semata masalah individu.Ada seperangkat paradigma yang sudah tertanam di kepala laki-laki yang berlaku tidak adil terhadap perempuan. Ini adalah persoalan masyarakat, budaya dan negara secara keseluruhan sebagai sebuah sistem sosial.

Bahasa mencerminkan masyarakat yang menggunakannya. Maka pada tataran masyarakat di mana terdapat struktur yang bias gender dan cenderung tidak adil terhadap perempuan, hal itu pulalah yang akan tercermin dalam bahasanya. Sebagai contoh, kita masih saja menggunakan istilah Wanita Tuna Susila(WTS) yang ditujukan pada perempuan pekerja seks. Namun istilah Laki-Laki Tuna Susila sebagai ‘pembeli’ jasa para perempuan pekerja seks atau laki-laki mucikari kerap tidak digunakan. Padahal kegiatan prostitusi hanya akan berlangsung sesuai hukum permintaan dan penawaran, yang melibatkan perempuan dan laki-laki. Lantas mengapa perempuan yang digelari ‘tuna susila’?

Menurut Michel Foucalt seorang filsuf mahzab Post-strukturalis, bahasa merangkum pengetahuan tentang dunia. Bila hendak dikritisi, bahasa yang kita gunakan bukanlah media yang netral melainkan representasi yang berperan dalam reproduksi makna. Maka bicara bahasa tidak dapat dilepaskan dari hubungan kekuasaan terutama dalam pembentukan subjek dan berbagai tindakan representasi dalam masyarakat.

Dalam masyarakat yang patriarki, pihak perempuanlah yang mengalami lack of power atau kelangkaan kekuasaan. Maka untuk memperbaiki struktur masyarakat yang lebih adil, strategi yang harus ditempuh perempuan adalah bicara! Menurut Foucalt untuk melawan, perempuan harus menjadi ‘subjek yang berbicara’ yang juga berarti ‘subjek dari pernyataan’.

Diam dan bungkam akan menjadi tempat berteduh bagi kekuasaan, maka perempuan harus tampil, bicara dan menolak dijadikan objek. Seperti yang dikatakan Helen Cixous-feminis Prancis, sangat penting bagi perempuan untuk memecah kebisuan teks dengan melancarkan strategi yaitu bicara dan menulis.

Maka itu penting seorang perempuan untuk tampil sebagai subjek, dalam hal ini sebagai penulis. Kita sebagai perempuan memiliki kewajiban moril untuk menyuarakan suara-suara perempuan yang selama ini terbisukan demi dunia yang lebih adil, lebih setara, dan lebih manusiawi (bagi perempuan) seperti yang kita impi-impikan.

Kemudian, menulislah demi kecantikan kita. Fatimah Mernissi seorang feminis Marokko menulis dalam bukunya Women’s Rebellion and Islamic Memory bahwa menulis lebih baik ketimbang operasi pengencangan kulit wajah atau krim pelembab.

Usahakan menulis setiap hari. Niscaya kulit Anda akan menjadi segar

kembali akibat kandungan manfatnya yang luar biasa! Dari saat Anda

bangun, Menulis meningkatkan aktivitas sel. Dengan coretan pertama

di atas kertas kosong, kantung di bawah mata Anda akan segera

lenyap dan kulit Anda akan terasa segar lagi. Menjelang tengah hari,

ia berada pada kondisi prima. Dengan kandungan aktifnya,

menulis menguatkan struktur kulit ari Anda. Pada akhir hari, kerut-

kerut Anda sudah memudar dan wajah Anda menjadi lembut kembali.

Rahasia yang terdapat dalam menulis adalah membuat seorang yang acuh tak acuh menjadi pembaca yang penuh perhatian. Menurut Fatimah begitu kita telah belajar menulis-yaitu menyampaikan suatu pesan yang dekat dengan hati kita- orang lain yang sebelumnya acuh tak acuh, kini akan menaruh lebih banyak perhatian untuk mengetahui apa yang harus kita katakan. Sehingga kita tidak perlu berteriak-teriak agar didengarkan. Untuk mengubah orang-orang di sekitar kita, pertama-tama kita harus mengubah diri kita sendiri. Perubahan orang lain hanyalah konsekuensi dari perubahan sikap kita dalam memandang diri kita dan orang lain. Kita harus percaya bahwa yang hendak kita sampaikan adalah sesuatu yang penting dan karenanya harus disampaikan dengan cara yang baik pula.

Tentunya kita tidak mengadopsi teori Fatimah Mernissi, Menulis = Obat Mujarab untuk Awet Muda, tersebut secara harfiah. Kecantikan adalah sesuatu yang sifatnya inside-out. Kita bisa menjadi cantik karena sikap hidup kita yang positif dan produktif dalam berkarya. Tinggalkan krim wajah dan pil diet. Ambil pulpen dan kertas, mulailah menulis. Menulis apa saja. Ketidaknyamanan kita ketika disuit-suiti laki-laki di jalan, kejengkelan kita ketika ada yang mengomentari bagian tubuh kita yang pribadi, kemarahan kita membaca berita perkosaan perempuan di koran. Apa saja.

Maka perempuan, menulislah! Demi impian-impian kita tentang dunia yang lebih adil, lebih setara, dan lebih berkemanusiaan buat perempuan. Biar dunia ini bisa mendengar kegelisahan-kegelisahan kita, pengalaman-pengalaman kita, ide-ide gila kita, para perempuan. Dan tentu saja menjadi lebih cantik dengan standar yang kita buat sendiri. Tidak melulu berkulit putih, bertubuh seksi, dan berambut lurus panjang seperti standar yang dibuat oleh masyarakat patriarkat ini!

(tulisan ini dimuat di Jurnal Herstory, cerita perempuan edisi 2 tahun 2002, sebuah jurnal yang diterbitkan LSM Institut Perempuan, Bandung dengan beberapa penyesuaian)

http://bukuterbuka.multiply.com

Diperlukan upaya lintas sektoral serta jalur koordinasi antara Direktorat Pendidikan Masyarakat dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang memiliki perhatian pada pendidikan kaum marginal untuk memberdayakan kaum perempuan melalui pemberian pengetahuan dan ketrampilan untuk melepaskan diri dari belenggu kebodohan dan keterbelakangan dan mengarahkan perempuan sebagai subjek dalam aktivitas publik sesuai dengan kompetensi yang tidak menyimpang dari kodratnya.

Maka terselenggaralah Temu Lembaga Peduli Pendidikan Perempuan yang diadakan oleh Direktorat Pendidian Masyarakat, Ditjen Pendidikan Luar Sekolah, di Hotel Utami, Surabaya, Kamis (24/5).

Direktur Kursus dan Kelembagaan, Dirjen PLS, Depdiknas, Triyadi mengatakan, kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka memberikan saran kebijakan kepada Direktorat Pendidikan Masyarakat guna merumuskan sebuah Rencana Aksi Nasional akan pentingnya pendidikan bagi perempuan yang berperspektif gender untuk kemudian memprogramkannya dalam renstra pendidikan luar sekolah. Hal ini mengingat bahwa tingkat pendidikan perempuan masih rendah, menurut data yang ada, terdapat 10,7 persen perempuan usia 10 – 40 tahun masih menyandang buta huruf dikarenakan tidak pernah sekolah, tidak tamat SD atau pernah mengikuti program keaksaraan tetapi kembali buta huruf lagi karena tidak adanya program lanjutan.

Kondisi ini dikatakannya mempersulit upaya memberdayakan kaum perempuan melalui pemberian pengetahuan dan ketrampilan untuk melepaskan diri dari belenggu kebodohan dan keterbelakangan. Untuk itulah diperlukan upaya lintas sektoral serta jalur koordinasi antara Direktorat Pendidikan Masyarakat dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang memiliki perhatian pada pendidikan kaum marginal. Upaya tersebut harus mengarah kepada pemberdayaan perempuan sehingga keberadaannya tidak hanya sekedar jadi objek bagi laki-laki untuk urusan dapur dan kasur semata, tetapi juga sebagai subjek dalam aktivitas publik sesuai dengan kompetensi yang tidak menyimpang dari kodratnya.

Demikian dikatakan oleh pejabat asal Klaten, Jawa Tengah ketika membuka acara Temu Lembaga Peduli Pendidikan Perempuan tersebut. Selanjutnya, dikatakan pula bahwa Rencana Aksi Nasional ini memusatkan kepada upaya penyadaran perempuan usia produktif bagi keluarga miskin, melalui peningkatan pengetahuan dasar.

Kegiatan yang diikuti oleh 45 orang perwakilan dari LSM se Indonesia ini di fasilitasi oleh Subdit pendidikan perempuan, Direktorat pendidikan masyarakat, diharapkan bisa membangun jaringan kemitraan antara LSM dan Depdiknas melalui program pendidikan luar sekolah, diantaranya penyaluran dana block grant dan life skills. Diharapkan, nantinya kegiatan ini bisa berubah menjadi sebuah gerakan nasional seperti halnya gerakan Keluarga Berencana, yang nyatanya bisa berhasil mengendalikan laju pertumbuhan penduduk serta mengurangi Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi.

Sementara itu, dalam arahannya, Lilik Setyowati, Kasubdit Pendidikan Perempuan mengatakan bahwa Rencana aksi Nasional ini dalam rangka mempromosikan kesetaraan perempuan dalam memperoleh pendidikan dengan tujuan untuk menghapus disparitas gender dalam pendidikan. Hal ini sejalan dengan Deklarasi Beijing (Beijing Declaration and Platform for Action) yang menyebutkan bahwa Negara-negara anggota PBB berketetapan menjamin akses dan perlakuan yang sama antara laki-laki dan perempuan dalam pendidikan, kesehatan serta peningkatan ekonomi kaum perempuan.

Namun beliau juga menyadari, dalam kenyataannya, hasil dari berbagai kesepakatan yang dibuat belum secara optimal terwujud, terutama dalam memenuhi akses pendidikan yang merata dan adil bagi perempuan. Artinya, disini pemberian pendidikan untuk kaum perempuan marginal tidak hanya sekedar diberi ketrampilan fungsional saja, namun perlu juga diberikan pendidikan penyadaran tentang peran-peran yang bisa dimainkan, baik di ranah domestik maupun di ranah publik. Hal ini sebagai upaya membongkar relasi kekuasaan antara laki-laki dan perempuan, seperti budaya patriarki serta masih adanya kesalahan penafsiran ajaran agama terhadap masalah kesetaraan gender.

Sayangnya, kadang perempuan sendiri yang karena ketidak berdayaannya, mau menyediakan diri untuk dinomor duakan, bahkan rela dijadikan hiburan lelaki. “Untuk itulah RAN sebagai gerakan bersama merespon masalah kesenjangan perempuan dalam pendidikan sesuai pemetaan masalah di tingkat lokal.” Kata perempuan asli Trenggalek ini mengakhiri arahannya. [*]
[Ebas/Widya]
(red)

Sumber: BP-PLSP Regional IV Surabaya

BENGKULU–MI: Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan (Meneg PP) Meutia Farida Hatta mengatakan, jumlah penyandang buta aksara dari kalangan perempuan lebih banyak dua kali lipat jika dibandingkan dengan laki-laki.

Banyaknya perempuan yang masih buta aksara harus menjadi perhatian kita semua, kata Meutia yang juga Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Partai Keadilan dan Persatuan (PKP) Indonesia saat temu kader PKP Indonesia se-Provinsi Bengkulu, Sabtu (13/9).

Penduduk yang masih buta aksara saat ini sekitar 10,1 juta orang dan tersebar di berbagai provinsi termasuk Bengkulu. Dari jumlah itu sebagian besar merupakan perempuan.Tingginya jumlah peremuan buta aksara, menurut dia, tidak terlepas dari masih adanya kesejanjagan jender.

Agar jumlah perempuan buta aksara bisa terus ditekan,pemberdayaan peremuan harus menjadi prioritas dan didukung semua kalangan, katanya.

Perempuan, ujar Meneg PP, merupakan aset bangsa yang harus dipintarkan agar bisa lebih beperan aktif dalam pembangunan serta tidak menjadi beban baik bagi keluarga maupun negara.

Ia juga menegaskan, perempuan pintar tidak akan menjadi saingan bagi laki-laki tapi justru akan menjadi rekanan kaum laki-laki.

Menurutnya, iistri yang bodoh hanya akan menjadi beban karena tidak bisa berbuat apapun untuk mendukung suaminya. Sebaliknya, istri yang pintar akan menjadi rekanan bagi suami yang bisa memberikan pertimbangan dan saran bagi suami dalam mengarungi rumah tangga serta membantu mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Meutia juga mengaku prihatin dengan masih tingginya angka kematian ibu melahirkan di Indonesia, yang salah satunya karena masih kurangnya pemberdayaan perempuan.

Saat ini, dari setiap 100 ribu ibu melahirkan sebanyak 307 di antaranya meninggal. Kondisi tersebut tidak hanya terjadi pada kalangan keluarga kurang mampu, tapi juga menengah ke atas.

Belum lama ini saya berkujung ke satu daerah yang tingkat kehidupan masyarakatnya sudah mapan. Saya tanya apakah masih ada ibu meninggal saat melahirkan, dan dijawab masyarakat minggu lalu ada bahkan dua orang, itu bukti masih kurangnya pemberdayaan perempuan, katanya.

Masalah kematian, lanjutnya, memang takdir tapi ada upaya untuk mencagahnya diantaranya memberikan asupan gizi yang cukup dan terus memnatau kondisi kesehatannya selama mengandung sampai melahirkan. (Ant/OL-01)

Sumber: Media Indonesia Online

Nesya menghela nafas panjang. Artikel yang baru saja dibacanya membuat hatinya kesal. Batinnya berbisik �Aku memang menitipkan anakku di tempat penitipan anak (TPA). BBM naik, tuntutan jaman semakin gila, salahkah bila aku bekerja? Walau lelah sepulang kerja, aku tetap mencuci popok bau anakku. Aku tetap menemaninya bermain, aku menyuapinya saat di rumah, dan aku mengajarinya banyak hal.

Aku menikmati semua itu, karena aku cinta anakku. Salahkah aku? Apakah tak pantas bila aku mendapat sebutan ibu yang peduli pada anaknya?� Sangatlah wajar bila membaca artikel di Suara pembaruan (8/3) berjudul �Perempuan, Apa yang Kau Cari?� membuat sebagian perempuan seperti Nesya menjadi kesal dan tersinggung. Mereka merasa dicurigai sebagai ibu publik yang tidak peduli pada anaknya. Motivasi mereka dalam bekerja diduga sebagai selubung dibalik keegoisan pribadi, kesoktahuan akan nasibnya di masa mendatang, dan sebagai langkah antisipasi agar terhindar dari kekerasan. Mereka merasa dianggap sebagai ibu yang maunya �tahu beres�. Jargon �yang penting kualitas bukan kuantitas� yang dianggap senjata andalan mereka (para ibu publik) pun dipertanyakan.
Sungguh, perasaan semacam itu tidaklah berlebihan. Apalagi tulisan tersebut tidak mengkhususkan ibu publik mana yang sebenarnya dimaksud. Niatan bekerja semua ibu publik�yang dianggap perempuan modern (berpendidikan)�dipertanyakan kejujurannya. Lazimnya sebuah pendapat, ada yang berhak merasa kesal, namun tak sedikit pula perempuan yang tercerahkan ketika menyimak tulisan tersebut. Membacanya membuat kaum perempuan ini memikirkan kembali pilihan yang telah diambilnya untuk bekerja. Mereka merenungkan kembali konsekuensi akibat meninggalkan anak-anaknya dalam pengasuhan orang lain.
Perbedaan pendapat tersebut memunculkan sebuah pertanyaan baru. Boleh-boleh saja mempertanyakan motivasi ibu dalam bekerja. Namun bukankah yang lebih mendasar adalah mencari jalan keluar dari permasalahan? Bukankah mencari solusi bagaimana agar para ibu bekerja semakin peduli pada pengasuhan anaknya lebih dibutuhkan? Karena, bagaimanapun sejarah tak bisa ditolak. Sejak awal abad ke 20, perempuan yang bekerja di ruang publik semakin banyak jumlahnya dan tak dapat dihindari. Di Indonesia, sejak Kartini menuntut persamaan hak dalam pendidikan kaum perempuan, ketika itulah peran ganda perempuan mulai menggeliat.
Kini, perempuan berhak dan bisa memilih hendak menjadi ibu seperti apakah ia. Ibu bekerja, ataukah �ibu 24 jam� (full time mother�FTM), semua sah-sah saja dan menjadi hal yang biasa. Mungkinkah semua kenyataan ini diubah? Faktanya lagi, banyak pula para FTM yang tak peduli pada pengasuhan anaknya. Berapa banyak para FTM yang hari-harinya disibukkan dengan arisan, rumpi sana-rumpi sini, ke salon itu dan ini, sementara pengasuhan anak seluruhnya dilimpahkan pada baby sister. Berapa banyak pula para ibu bekerja yang sepulang kerja tak kenal lelah tetap menyuapi anaknya, bermain bersamanya, dan membacakan buku untuknya. Ibu bekerja seperti ini, yang sangat peduli pada anak-anaknya, juga tak sedikit jumlahnya.
Ibu bekerja ataupun tidak bekerja, bukanlah hal yang menentukan kepedulian seorang ibu pada pengasuhan anak-anaknya. Bekerja atau tidak, bukanlah suatu jaminan seorang ibu telah menjadi ibu yang baik dan berhasil dalam pengasuhan anak-anaknya.
Permasalahan
Walaupun demikian, tak dapat dipungkiri bahwa tempat pengasuhan terbaik bagi anak tetaplah ibu. FTM, tentu saja memiliki peluang lebih banyak untuk memberikan pengasuhan terbaik bagi anak-anaknya. Namun bagi ibu yang memilih untuk bekerja, kesempatan untuk memberikan pengasuhan terbaik ini berkurang. Bahkan secara ekstrim beberapa pihak menyebut bahwa ibu bekerja adalah ibu yang telah tega menelantarkan anak-anaknya. Padahal ibu mana yang tak mencintai anak-anaknya.

Masalah ibu bekerja memang menjadi dilema yang tak pernah ada habisnya.
Kesulitan ekonomi, ingin aktualisasi diri, menghindar dari kekerasan, ingin tampak terhormat� dan beragam motivasi lainnya� boleh-boleh saja menjadi alasan ibu bekerja. Tapi, apapun motivasinya, ibu bekerja tetap menghadapi masalah sama. Mereka harus meninggalkan anak-anaknya dalam pengasuhan orang lain. Pengasuh anak (child-care) yang dipilih biasanya adalah kakek-nenek, pembantu, baby sister atau TPA.
Tentu saja memilih pengasuh anak bukan perkara mudah. Akhirnya banyak ibu bekerja yang asal saja memilih pengasuh, dan tidak dapat menjadikannya partner yang baik dalam proses pengasuhan anaknya. Belum lagi tenaga dan pikiran ibu bekerja yang sudah terkuras di tempat kerja. Waktu luang ibu bekerja akhirnya digunakan untuk beristirahat, dan ibu tak lagi menghiraukan anak-anaknya. Selain itu ibu bekerja kerap memiliki perasaan bersalah berlebihan lantaran menitipkan anaknya pada orang lain. Akhirnya perasaan bersalah tersebut malah mengakibatkan cara pengasuhan yang salah�contohnya terlalu memanjakan anak.
Masalah tidak hanya sampai disitu saja. Meninggalkan anak dalam pengasuhan orang lain juga menimbulkan kekhawatiran tentang tumbuh kembangnya di kemudian hari. Bagaimana dengan kecerdasan anak tersebut nantinya? Bagaimana pula dengan kedekatannya dengan orangtua dan tingkah lakunya kelak? Melihat kondisi diatas, ketimbang mempertanyakan keputusan ibu untuk bekerja, akan lebih baik bila membantu mencarikan jalan keluar bagi permasalahan tersebut. Dengan demikian diharapkan ibu bekerja tetap dapat menghasilkan anak yang berkualitas kelak.
Hasil Penelitian
National Institute of Child Health and Human Development (NICHD) di Amerika, telah meneliti masalah ibu bekerja yang menitipkan anaknya pada pengasuhan orang lain . Penelitian yang dilakukan terhadap 1000 keluarga ini ingin mendapatkan gambaran mengenai dampak penitipan tersebut terhadap perkembangan anak. Penelitian ini mewakili kesepakatan 29 orang peneliti ternama. Dengan bekerja sama, mereka terhindar dari bias�seperti bias terhadap pendapat yang mempertahankan bahwa ibu harus bekerja�yang sering terjadi pada penelitian sebelumnya.
Penelitian tersebut menemukan bahwa memberikan pengasuhan anak kepada pengasuh anak selain ibu, seperti kakek-nenek, TPA, pembantu, maupun baby sister, ternyata lebih banyak memberikan dampak negatif, walaupun ditemukan pula dampak positif. Penting dicatat bahwa pengasuh anak yang berkualitas tinggi setidaknya dapat mengurangi dampak negatif tersebut.
Pengasuhan anak berdampak pada perilaku. Semakin sering anak dititipkan pada pengasuhan orang lain sebelum usianya 4,5 tahun, ternyata akan semakin meningkatkan agresivitas dan ketidakpatuhan anak. Namun, dampak positif terlihat pada anak yang dititipkan di TPA berkualitas baik. Mereka cenderung memiliki kemampuan berbahasa yang lebih baik. Kemampuan mengingat dan kemampuan memecahkan masalah mereka pun cenderung lebih baik, bahkan bila dibandingkan dengan anak yang diasuh di rumah oleh ibunya. Pengasuh yang mempunyai kualitas pengasuhan yang baik ternyata akan meningkatkan kemampuan akademik anak dan membuat hubungan kedekatan ibu-anak menjadi lebih baik pula.
Adakah waktu yang paling aman untuk mulai menitipkan anak pada pengasuhan orang lain? Menitipkan anak full-time dibawah pengasuhan orang lain kala anak masih bayi akan menimbulkan dampak negatif dalam tingkah laku. Enam bulan pertama kehidupan seorang bayi adalah waktu terpenting untuk tidak memberikan pengasuhan bayi ke tangan orang lain selain ibunya. Sebuah penelitian lain menunjukkan bahwa ibu yang meninggalkan anaknya untuk bekerja lebih dari 30 jam seminggu, saat anak berusia 9 bulan, memberikan hasil test kognitif yang lebih rendah�sewaktu anak ditest pada usia 3 tahun.
Semakin besarnya pengasuhan anak bukan oleh ibunya juga mendorong rendahnya keharmonisan interaksi ibu-anak, munculnya perilaku bermasalah ketika anak menginjak usia dua tahun, dan rendahnya kedekatan hubungan di antara mereka. Ibu hanya dapat belajar peka kepada kebutuhan dan keinginan anak setelah meluangkan waktu yang cukup bersama anak setiap hari. Ibu dan anak tidak dapat membangun ikatan satu sama lain jika mereka saling terpisah. Berbagai dampak negatif, menurut penelitian NICHD, berkurang ketika anak memasuki taman kanak-kanak.
Penelitian tersebut juga berusaha menjawab pertanyaan tentang manfaat TPA bagi keluarga secara keseluruhan. Sudah sejak lama dibuktikan bahwa setiap anggota keluarga tidak berkembang secara vakum namun berkembang melalui interaksi dinamis dengan seluruh anggota keluarga. Pada sebagian keluarga yang mengalami kesulitan ekonomi atau memiliki suasana rumah yang kurang nyaman, tidak jarang anak kurang mendapat perhatian. Dalam situasi seperti ini, menitipkan anak di TPA akan memberi dampak positif. Di sini anak akan mendapat lingkungan dan perhatian yang lebih baik, dan di sisi lain sang ibu bisa bekerja untuk meningkatkan kemampuan ekonomi keluarga.
Solusi
Ketika ibu telah memilih untuk bekerja�apapun motivasinya�resiko yang muncul pun mestinya telah siap dipikul. Hasil penelitian menunjukkan adanya dampak negatif bagi anak yang pengasuhannya dialihkan pada orang lain. Hal ini sering menimbulkan perasaan bersalah pada ibu bekerja. Padahal rasa bersalah merupakan musuh ketentraman. Menurut sejumlah penelitian ketidakstabilan emosi ibu dapat berpengaruh buruk pada anak. Daripada terkungkung dalam perasaan bersalah yang sering timbul, jalan keluar terbaik adalah berusaha meminimalkan dampak buruk tersebut dengan menghunjamkan niat dalam diri untuk menjadi ibu bekerja yang semakin peduli pada pengasuhan anak-anaknya.
Kesadaran ini akan memunculkan komitmen dan tanggung jawab yang kuat pada ibu bekerja. Sehingga ibu bersedia berkorban apapun demi memberikan yang terbaik bagi anaknya, bahkan ketika ibu dalam kondisi lelah luar biasa. Ibu akan selalu proaktif dan menambah pengetahuan seputar pengasuhan anak yang terbaru lewat media apa saja. Karena, melalui pengetahuan yang selalu diperbaharui, komitmen dan tanggung jawab yang terkadang luntur pun akan selalu diperbaharui pula.
Hasil penelitian telah menyebutkan bahwa pengasuh yang memiliki kualitas pengasuhan yang baik dapat meningkatkan kemampuan akademik dan kedekatan antara ibu dan anak. Karena itu, siapapun pengasuh yang dipilih, �mendidik� partner pengasuhan untuk selalu memberikan lingkungan yang kondusif bagi anak akan memberikan dampak yang baik bagi anak. Contohnya, ibu dapat meminta pengasuh untuk membacakan buku bagi anak, mendongeng, berdoa, menjauhkan anak dari tontonan TV yang buruk, berkomunikasi positif, dan beragam pesan lainnya. Selain itu, tidak menitipkan anak sebelum anak berusia 6 atau 9 bulan pada pengasuhan orang lain merupakan tindakan penting yang dapat dilakukan untuk mengurangi pengaruh negatif bagi anak.
Jika ibu memilih TPA sebagai partner pengasuhan anak, ada beberapa syarat TPA yang harus dipertimbangkan, seperti lingkungan yang kondusif bagi perkembangan anak, perbandingan anak dan tenaga pengurus TPA, jumlah anak dalam satu kelompok, tenaga TPA yang terdidik dan terlatih, menu makanan yang benar serta kebersihan TPA tersebut. Dalam Suara Pembaruan (2/3), Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak, Seto Mulyadi, mengatakan agar orangtua harus menyadari bahwa TPA bukanlah tempat pengalihan tanggung jawab orangtua, tetapi hanya sebuah alternatif jalan keluar. Orangtua yang terpaksa menitipkan anaknya di TPA diharapkan untuk tetap menjaga kualitas komunikasi dengan anak-anaknya.
Pilihan menjadi ibu bekerja memang selalu membawa dilema. Melihat dampak yang ada dari penelitian diatas, dapat dikatakan bahwa keberadaan ibu dalam membesarkan anak-anaknya tetap tidak tergantikan oleh siapapun. Namun jika ibu terpaksa harus bekerja atau memang ingin bekerja, bukan berarti tak ada jalan keluarnya. Dengan mengetahui dampak buruk yang timbul dan solusi yang ada, mudah-mudahan akan membuat ibu bekerja semakin peduli pada pengasuhan anaknya. Sehingga ibu bekerja seperti Nesya tak ragu lagi untuk menyebut dirinya sebagai ibu yang peduli pada anaknya. (Agnes Tri Harjaningrum)

http://www.perempuan.com

Bagi pasangan suami istri, pencapaian kepuasan saat berhubungan intim merupakan salah satu perekat harmonisasi keluarga. Karena itu beragam cara kerap dilakukan agar memperoleh kepuasan tersebut.

Sayang, aktivitas dan rutinitas kerja sehari-hari tak jarang menyerap energi lebih sehingga membuat tubuh menjadi lebih lelah. Kondisi tubuh yang tidak fit tersebut ternyata menurunkan mood untuk berhubungan seks.

Konsumsi Ginseng Maksimalkan Aktivitas SeksKonsultan seks, Naek L Tobing mengatakan seks merupakan aktivitas fisik yang memerlukan banyak energi dan stamina. Karena itu bila tubuh dalam keadaan lelah dan kecapaian, jangan heran bila tingkat libido menjadi menurun dan berkurang.

Setelah seharian lelah bekerja, pada malam harinya bantal yang empuk akan terasa lebih menggoda ketimbang menguras energi untuk berhubungan intim. Rasa malas pun akan cenderung mendominasi dibandingkan keinginan untuk berhubungan seks tersebut.

Nah, bila sudah begini hubungan suami istri bukan tidak mungkin akan menjadi renggang dan dapat berujung pada putusnya komunikasi, jangan sampai hal tersebut didiamkan berlarut-larut karena bisa menyebabkan perceraian.

Naek menyarankan untuk segera mengubah pola hidup agar tidak terlalu kelelahan dalam bekerja. Salah satunya dengan menjaga pola makan dan mengkonsumsi ginseng. Memang belum ada uji klinis mengenai manfaat langsung mengkonsumsi ginseng dengan peningkatan libido.

Namun dengan mengkonsumsinya badan akan terasa lebih segar dan secara otomatis memperbaiki keinginan (mood) untuk melakukan hubungan seks.

Saponin yang merupakan kandungan utama dalam ginseng atau disebut juga Ginsenosida atau Ginseng Glykosida mempunyai efek besar dalam mengurangi lemak, membantu penyerapan gizi dan memaksimalkan proses pencernaan makanan.

Selain itu senyawa ini juga mengaktifkan enzim di dalam sel guna mempercepat berbagai fungsi diantaranya metabolisme, meningkatkan energi dan stamina serta terbukti manjur untuk meningkatkan vitalitas dan pemulihan berbagai penyakit seperti kelelahan, lemah sekujur badan dan hilang nafsu makan.

Salah satu ginseng yang terkenal memiliki khasiat paling ampuh adalah ginseng Korea. Prof. Dr. Kim Si-Kwan dari Universitas Konkuk Korea mengatakan ginseng Korea atau Korean Insam mengandung saponin lebih banyak bila dibandingkan dengan ginseng dari Negara lain.

Di antaranya Ginsenosida Rh-2 yang cepat mengembalikan sel kanker menjadi normal kembali. Ginsenosida Rg3 yang mampu mengaktifkan pengendalian terhadap obat-obatan anti kanker dan melindungi sel otak. Ginsenosida Rf yang menekan rasa sakit pada sel-sel otak serta Ginsenosida RO yang merupakan anti peradangan, penangkal racun dan mengendalikan reaksi adhesif dari trombosit.

Saponin pada Insam Korea ini membentuk “H-901” selama metabolisme. Unsur ini sangat baik untuk menghindari pembiakan sel-sel kanker tanpa efek samping. Selain itu mengandung lebih banyak protein dengan suhu yang stabil.

Ginseng juga turut membantu penyembuhan gangguan sistem pernafasan, sistem peredaran darah dan sistem pencernaan. Efek Insam Korea dapat dimanfaatkan untuk hampir semua bagian dari tubuh manusia termasuk sebagai penguat nutrisi dan obat anti penuaan.

Tak hanya itu, Insam Korea juga berfungsi sebagai penambah darah, menormalkan denyut nadi, merawat paru-paru, menawarkan racun, menambah sekresi (cairan tubuh) menghilangkan dehidrasi, menghentikan diare dan yang paling penting menghilangkan keletihan fisik yang dapat mengganggu aktivitas seks dengan pasangan.

Pencarian
September 2010
M T W T F S S
« Dec    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  
Waktu Sholat
    Waktu Sholat hari ini di
    ....