Posts Tagged ‘artikel’

diansastroKonsep perempuan dalam televisi lambat laun menjadi salah satu konsideran gerakan feminis dunia sebagai pengembangan wacana perempuan dalam media dan perempuan sebagai audiens.

Dalam menganalisa fenomena perempuan dan dunia pertelevisian lewat analisa tanda, para feminis sedikit banyak dipengaruhi pemikiran teori-teori semiotik dari Roland Barthes, Umberto Eco dan Ferdinand de Saussure. Sedangkan untuk kritik ideologinya terdapat pula beberpa pengaruh tokoh marxis seperti Louis Althuisser di Perancis dan Antonio Gramsci di Itali.

Kritik atas Ideologi Televisi

Televisi adalah medium fiktif yang sangat kuat dalam masyarakat kontemporer. Televisi sebagai produk lahir dari hasil kombinasi antara teknologi, industri , serta event ideologis dan politis dalam masyarakat yang oleh Althuiser diklasifikasikan sebagai ‘salah satu perangkat ideologis negara’ (ideological state apparatures). Ideologi dari kelompok dominan ini menurut Gramsci harus diakses lewat media tertentu dan diupayakan agar ‘selama’ mungkin sehingga sulit dilacak.

Program-program acara televisi sebagai salah satu garda kekuasaan (gate-keepers) menjadi perangkat ideologis yang berbahaya karena berbeda dengan buku dan koran, wacana kekuasaan dalam pertelevisian sangat ‘sulit dibaca’. Setiap orang senang nonton televissi, padahal televissi penuh dengan permainan ideologis yang muncul dalam kontradiksi dan penyelesaiannya. Perempuan lalu di intergrasikan dalam cara televisi memandang sebuah perspektif budaya, pada akhirnya perempuan beserta seluruh relasinya ‘diproduksi’ oleh televisi menjadi ‘perangkat ideologi dominan’ tersebut.

Struktur dari kekuasaan sosial dan kontrol ini merambah seluruh kehidupan perempuan baik dewasa maupun remaja. Kesenangan dan hidup perempuan baik itu melalui iklan, melodramaa, acara kuis dan lainnya akhirnya di determinasikan, tanpa memberi kesempatan bagi perempuan untuk mengkontruksikan makna yang barasal dari dirinya sendiri. Dalam televisi perempuan cenderung diharapkan menjadi partisipasi periferal sebuah budaya.

Caren J. Deming mendeteksi problem dari pengalaman perempuan dan visi dari ‘narasi dominan’ yaitu para eksekutif laki-laki. Yang jadi pertayaan sekaligus kritik terhadap dunia televisi adalah ‘fiksi siapah ini?’ dan ‘kultur apa yang mereka sajikan?’. Televisi seolah menyajikan kehidupan sosial perempuan yang sebenarnya, bagaimana karakter perempuan yang seharusnya serta bagaimana perempuan harus ‘berpenampilan”. Namun nyatanya itu semua hanya kehidupan dalam dimensi fantasi. Karena itu perempuan harusnya menolak kebenaran yang dicetak oleh angan-angan dan terminologi laki-laki dalam dunia pertelevisian.

Cinta dalam ‘Kotak Idiot’

Caren J, Deming dalam kritiknya terhadap televisi mengumpat bahwa cinta dalam romantikan Amerika menurut versi kotak idiot (televisi) sebagai problematika sosial baik dalam melodrama maupun komik karena bersifat mengecoh dan selalu berupaya agar perempuan ‘tetap diam di tempatnya’, seperti di dapur dan di kamar tidur. Karakter tokoh perempuan juga sangat jauh dari realita dan hampir tidak mungkin terjadi dalam dunia nyata. Misalnya tokoh jahat Alexis dalam film seri ‘Dallas’, ketika diadakan survey, hampir seluruh responden menyatakan bahwa dalam dunia nyata karakter seperti Alexis tidak mungkin ada.

Paling tidak ada tujuh modus dunia pertelevisian yang berdampak merugikan bagi kaum perempuan, antara lain:

1. Mengartikulasikan garis besar dominasi kultur yang mapan tentang hakikat dari realitas.
2. Mengimplementasikan kultur individual ke dalam sistem nilai-nilai dominan.
3. Merayakan kultur individual yang dianggap representatif ke dalam dunia ‘di luar sana’.
4. Menyakinkan bahwa kebudayaan dominan sudah dikonfirmasikan lewat ideologi dan mitologi sehingga cukup sahih untuk dipresentasikan di layar kaca.
5. Meng-ekspos rasa dari budaya itu sendiri yang menjadi hasil dari kondisi dari budaya yang berubah pada dunia ‘di luar sana’.
6. Menyamakan status pihak dominan dan identitas individu yang dijamin oleh budaya secara keseluruhan.
7. Menstransmisikan makna-makna yang diproduksi ini ke segenap anggota masyarakat secara lebih luas.

Perempuan dan Konsep Keluarga menurut Iklan

Bagaimana TV mendefiniskan budaya perempuan, hampir tidak pernah lepas dari ‘konsep keluarga’. Karenanya, dalam pertelevisian, perempuan menjadi identik dengan kehidupan keluarga. Televisi membujuk kaum perempuan agar bersikap kompromis dengan kesimpulan yang ditawarkan, perempuan diajak untuk ‘terobsesi’ pada hidup keluarga, emosi perempuan juga didefinisikan oleh kondisi psikis para eksekutif laki-laki yang bertengger di belakang iklan serta cara-cara televisi itu. Ini berarti dalam dunia pertelevisian perempuan telah terkooptasi oleh imaginasi maskulinitas.

Sudah saatnya perempuan bersikap kritis dan menyadari bahwa dalam televisi, kepentingan perempuan terperangkap lagi. Peran-peran perempuan di sana menjadi ambigu. TV komersial menginginkan perempuan bukan sebagai perempuan, tetapi sebagai pengkonsumsi iklan. TV komersial menjadi bagian intergral dari dunia belanja modern. Perempuan oleh industri TV ‘bisa diprediksi’. Industri TV modern dengan mudahnya mencetak perempuan yang ‘terprediksi’ dan perempuan lalu menjadi ‘ibu yang terpogram’. Ia identik dengan komoditas barang tertentu, misalnya sabun cuci merek anu, atau perhiasan merk anu, bahkan ia sudah ditentukan akan membeli barang di tempat tertentu. Ketika ia memiliki anak, televisi juga telah memprogram dia untuk membiarkan anaknya menonton film kartun seperti Power Rangers dan Winnie the Pooh dan selanjutnya membeli pernik-pernik lain dengan karakter yang sama dengan film kartun tersebut.

Televisi sesungguhnya tidak menampilkan kebutuhan perempuan, tapi justru kebutuhan dari para pengiklan (advertisers). Karenanya perempuan harus di set-up dalam terminologi laki-laki sekalgus agar mendukung kepentingan para pengusaha tersebut, perempuan harus mengorientasikan hidupnya melulu pada keluarga, serta berorientasi pada masyarakat yang konsumtif. Perempuan kian direfleksikan dalam pembagian gender yang tidak adil dalam masyarakat. Sementara program-program yang terkooptasi dalam terminologi laki-laki dan masalah tersubordinatnya peran perempuan dalam keluarga justru tidak pernah dipertanyakan.

(Disarikan dari ‘Televisioan and Women’s Culture, The Politics of the Popular’ editor: Marry Ellen Brown)

http://partisipasiperempuan.uni.cc

Is it a man’s, man’s, man’s world?
Pop music has tended to portray women as either little girls in Chantilly lace or devil women in blue jeans. Laura Barton checks out the feminist credentials of 10 hit songs through the years

If it is possible to pinpoint the moment that music and feminism truly collided (and, let’s face it, it’s hard to be precise about these things) we might suppose it was as Destiny’s Child solemnly announced: “I don’t think you’re ready for this jelly” in their barnstorming hymn to the joys of shakeable bottoms, Bootylicious. Until this moment, feminism’s musical manifestations had swung between coded appeals for sexual equality from singers and songwriters as diverse as Big Mama Thornton and Linda Perry, and heartfelt, if faintly vacuous, appeals for a woman to have fun. Cyndi Lauper’s Girls Just Wanna Have Fun, or Natalie Cole’s Wild Women Do, for example, both diluted their argument somewhat by explaining or apologising for their wayward antics.

But in 2001, as Destiny’s Child laid down their provocative dancefloor challenge, it was with the air of women who knew they had it all: they were in possession of their own bodies, their own sexuality, their own lives. They were not women who waited to be asked to dance. And, what’s more, they really did have “great jelly”. We’ve seen this imitated a thousand times since, of course – Kelis had Milkshake, not jelly, and the Black Eyed Peas unfortunately gave us Humps. (Though possibly that was just an allergic reaction.)

Over the years, the vast majority of rock’n'roll songs have given a somewhat disappointing portrayal of women – from little girls in Chantilly lace to devil women and venuses in blue jeans. Here, we examine 10 songs’ depiction of womankind, and award each of them their own “feminist rating”. (You may notice that we have omitted Angie Stone’s Time of the Month, which must be commended for the lyric “Don’t even mess with me/ It’s that time of the month”, but, having been written by a man, may also have been a half-hearted attempt to cash in on the “Whoa Bodyform” genre.)

She’s My Man: The Scissor Sisters

Women in song are largely portrayed as gentle creatures with swingy ponytails and wiggly walks, but the Scissor Sisters’ latest single breaks with convention, telling of a woman who “takes her drinks with dust and rusty razor blades” and furthermore “chokes me in the backseat of her riverboat”. Painful, but if that’s not empowerment, I don’t know what is. With the assertion that “She’s my man/ And we got all the balls we need” it is, arguably, a little hard to discern whether this is a tribute to a transvestite or a particularly gutsy woman, but in this era of supposed equality and sexual freedom, it is cheering that such confusion arises.
Feminism rating: 7/10

I’ve Never Been to Me: Charlene

A song apparently written by the editorial team of the Daily Mail, I’ve Never Been to Me tells the tale of a woman who has “been to Paradise” but “never been to me”. The song addresses another woman who is bemoaning her status as “a discontented mother and a regimented wife” (which does sound fairly unappealing). Rather than telling her to buck up, though (as Candi Staton did so brilliantly with Young Hearts Run Free), Charlene mopes that, though she has personally “been undressed by kings”, and, indeed, “sipped champagne on a yacht”, these cavortings have all been for nought. Yes, even the evening she “danced like Harlow in Monte Carlo”. Why so? Well, you only have to consider the nights she has spent crying for the “unborn children that might have made me complete” to catch the gist of her argument. Summation: menopausal ex-globe-trotting crumpet wonders if she shouldn’t have settled down in that semi in Swindon, aged 22, after all. Just why is this still a karaoke favourite?
Feminism rating: 0/10

It’s a Man’s Man’s Man’s World: James Brown

Brown broadly sketches for us some pre-women’s movement tableau, in which men’s responsibilities consist of burly pursuits such as making trains to carry heavy loads and inventing electric lights, before explaining that all of this achievement would be utterly worthless if it weren’t for the delightful, cheering presence of us ladies. Which is, presumably, why they awarded us the vote. What I have always liked about this song is that while it is an indisputable fact that this is, indeed, a man’s world, it would mean nothing without a woman OR a girl. He may have been more noted for his dance moves, but Brown was evidently something of a Nabokov fan too.
Feminism rating: 1/10

All Woman: Lisa Stansfield

Prompted by her man’s assertion that she looks not only “a mess” but also “dowdy in that dress,” Stansfield explores the tricky terrain between being a “classy lady” and a common-or-garden “woman”, and reaches the sensible conclusion that the two aren’t mutually exclusive: in fact, womanliness actually makes one a classy lady. Do you see? It’s a little like that old chicken-or-egg conundrum. This song succeeded in convincing many women that they were more than just domestic drudges, and still enjoys considerable airtime in those late-night Love Hour segments on local radio (presumably when requested by an apologetic husband). In this age of soaring female achievement,though, wouldn’t it be nice if Stansfield re-recorded the track, perhaps featuring a put-upon house-husband blubbing about how fat he looks in an apron while his wife skips off to the office?
Feminism rating: 6/10

Girls Just Wanna Have Fun: Cyndi Lauper

Lauper’s hit insisted on the right of women, not only to work, but to stop out till the early hours and receive telephone calls, day and night. The fact that her protagonist is not contemplating her future with the gravitas her parents might wish is perhaps a little perturbing for older listeners, but the song happily casts off drudgery and doubt, remaining a bold statement about a woman’s right, not just to equal pay, etc but also to a little common or garden happiness. “Some boys take a beautiful girl,/And hide her away from the rest of the world,” she sings. “I wanna be the one to walk in the sun.” Quite right, Lauper, quite right.
Feminism rating: 8/10

Jolene: Dolly Parton

Parton’s heartfelt appeal to an auburn-haired, green-eyed foxtrel not to steal her man “just because you can” is a harsh reminder that not all women (or ladies, Stansfield) subscribe to the Sisterhood. It’s not easy to hear, but this holds up as a beacon of biting intensity in a world of woolly lyrics, with Parton cracking right to the heart of those thorny emotional issues.
Feminism rating: 8/10

Just Like A Woman: Bob Dylan

Romance is dead, as Dylan makes a rather scathing attack on a former lady-love who “Takes just like a woman, yes, she does/ She makes love just like a woman, yes, she does/And she aches just like a woman/ But she breaks just like a little girl.” Sadly, a woman’s principal activities are here narrowed down to (a) taking (b) making love and (c) aching. It could be worse. At least we didn’t have to faff about inventing the electric light and trains.
Feminism rating: 2/10

Independent Woman: Destiny’s Child

Independent Woman continues an argument expressed in an earlier Destiny’s Child song, Bills, Bills, Bills, which harangues a gentleman for not paying his way in a relationship. Independent Woman goes further, explaining that a woman should not require a man to buy her shoes, house, automobile or the “rocks” she is “rockin’” but should instead head out to find gainful employment and, therefore, financial liberation. (The bit about Charlie’s Angels and Lucy Liu is pretty superfluous and should probably be ignored.)
Feminist rating: 9/10

Fat Bottomed Girls: Queen

In 1978, Queen posited the theory that it is not gravity but, in fact, the force of amply-posteriored ladies that makes the earth spin on its axis. Intriguing. Although, almost 30 years after the event, the scientific community has still to respond, the fact that Queen’s guitarist Brian May (who wrote this particular track) was studying for a PhD in astronomy at the time lends some credence to their argument. Over the years this song has proved a useful rebuff to the portrayal of women in popular culture as little more than Slim-fasted whippets. And, at the very least, you have to applaud a song that rallies “Take me to them lardy ladies every time!”
Feminism rating: 8/10

My Humps: The Black Eyed Peas

Which rather brings us to this offering from the Black Eyed Peas – an ode, of sorts, to a lady’s curvaceous figure. Sample lyric: “My hump, my hump, my hump, my hump, my hump, my hump/ My lovely lady lumps.” (It’s just a supposition, but these lyrics may not have taken very long to write.) While there is nothing wrong with a woman heralding the pride she takes in her womanly physique, there is something uncomfortably playground-esque (and slightly mind-boggling) in her subsequent proclamation that “I mix your milk wit my cocoa puff/ Milky, milky cocoa.” Especially when it is apparently offered up as some kind of female empowerment. We are deducting further points for the fact that this is arguably the worst song of all time – taking even Russ Abbott’s Atmosphere into consideration.
Feminism rating: 2/10

- dari The Guardian, Rabu 14 Maret 2007

Racun dalam kosmetik bisa merusak hormon dan menurunkan level ekstrogen pada wanita.

Finalia Kodrati, Mutia Nugraheni

Tiga Bahan Kosmetik Pemicu Kemandulan

VIVAnews – Setiap hari Anda pasti menggunakan kosmetik untuk mempercantik penampilan. Pertimbangan saat memilih riasan, bukan hanya warna yang sesuai dengan kulit dan harga tetapi juga keamanannya.

Beberapa kosmetik ternyata banyak mengandung bahan berbahaya dan berisiko memicu kemandulan.

Racun dalam kosmetik bisa merusak hormon dan menurunkan level estrogen pada wanita. Hal itu mengakibatkan respon ovarium juga berkurang dan mengurangi kualitas telur didalamnya.

Meskipun peraturan nasional dan internasional melarang peredaran kosmetik dengan bahan berbahaya tetapi masih banyak yang beredar di pasar ilegal dengan nama atau kemasan lain.

Penting bagi Anda untuk mengetahui bahan yang terkandung dalam kosmetik sebelum membelinya. Ada tiga bahan kosmetik yang bisa merusak hormon dan memicu kemandulan. Kenali bahan-bahan tersebut dan telitilah saat membeli kosmetik.

- Phthalate

Phthalates banyak terdapat pada kuteks dan produk-produk perawatan kuku. Phthalates terbukti memiliki dampak buruk pada hormon wanita, dan bisa merusak DNA dari sperma. Selain terdapat pada kuteks, phthalates juga terdapat pada kosmetik yang memiliki aroma. Untuk itu sebaiknya pilih kosmetik yang tidak beraroma.

- Paraben

Paraben adalah bahan kimia yang banyak digunakan sebagai pengawet pada deodorant, dan krim cukur. Paraben dapat mengganggu produksi hormon dan bersifat karsinogen (penyebab kanker).

Periksa kembali deodoran atau lrim cuku yang biasa Anda gunakan, jika terdapat paraben, segera ganti sebelum Anda terserang penyakit dan berisiko tinggi mengalami kemandulan.

- Nonoxynol atau nonylphenol ethoxylate

Nonoxynol sering juga tertulis nonylphenol ethoxylateare adalah bahan kimia perusak hormon dan bisa memicu kematian embrio atau keguguran saat kehamilan. Bahan tersebut banyak terdapat pada krim pelembab kulit, efeknya bisa dengan cepat merusak hormon karena menyerap langsung melalui kulit.

• VIVA news

Make up (inmagine.com)

As strange as it may seem to some, what you eat can have a profound effect on whether you conceive a baby boy or a baby girl! Let me explain:

The foods you eat can and do effect you’re body’s ph. Eat foods that are acidic and your body will become more acidic. Eat foods that are more alkaline on the ph scale and your body’s ph will raise in response, becoming more alkaline.

Ok, so how does your body’s ph affect the gender of the baby you will conceive? Well lets first understand first off that it’s the father’s sperm determines the sex of your baby! That’s right, your egg only carries an (xx) chromosome (all female) but the father’s sperm come in two configurations, or sexes if you will, if his (xy) sperm fertilizes the egg a female baby will result, if his (yy) sperm fertilizes the egg a male baby will result. If only Henry VIII had known maybe he would have cut off his own head instead lol.

You need to understand some differences in the (xy) sperm (I’ll call the “girl sperm”) and the (yy) sperm (I’ll call the “boy sperm”.) The girl sperm is physically larger and stronger (longer lived) than the boy sperm. It is however a much slower swimmer (takes longer to reach the egg) than the boy sperm. Therefore the boy sperm tends to be smaller weaker (less hardy) and much faster to swim to the waiting egg.

Ok, now that you can see how these two sperm differ, it’s time to take advantage of these differences, in an attempt to influence the gender of your new baby!

If you can keep your body on the acidic side of the ph scale at the time you are trying to conceive, you will make life very difficult for the boy sperm, and raise the odds to conceive a little girl. If, on the other hand you can keep your body’s ph more to the alkaline side you will give the boy sperm a fighting chance (remember they are much faster) to win the race and fertilize the waiting egg resulting in a boy baby.

Ok, enough of the scientific stuff, what foods do you eat to tip the odds in favor of conceiving a male baby? Try to eat plenty of meats, pasta, fish, flour, vegetables, caffeine, and chocolate. Try to stick to a high calorie diet (over 2200 calories) while trying to conceive. Be sure to eat a good breakfast especially on those mornings you are trying to conceive. Eat foods high in potassium, and stay away from foods high in magnesium and calcium (like dairy products.)

I hope you have realized that if you want to be able to choose the gender of your next baby there is indeed simple, natural, steps you can take to tip the odds in your favor! If you are truly serious, please take the time to visit my website for more tips and links to the best ebooks available online to guide you through the process.

Author : Jerryl Lindenberg
Source : http://www.articlecity.com/

Cinta memang indah, dapat menyatukan dua insan yang berbeda. Tiap orang ingin dicintai dan mencintai dan setiap pasangan pasti ingin cinta yang langgeng, bahagia hingga akhir hayat.

Tapi, bagaimana kalau pasangan kita selingkuh? apakah perasaan cinta dan sayang selama ini akan kandas  juga  ? ada  beberapa  hal  yang menyebabkan pasangan kita selingkuh, mulai dari coba-coba, kurangnya komunikasi, adanya ketidakpuasan terhadap pasangan  misalnya dalam  urusan ranjang, ada juga disebabkan  faktor lingkungan sosial / kerja  yang memungkinkan terjadinya perselingkuhan. Berikut ada beberapa kiat  yang dapat mencegah terjadinya  perselingkuhaan :

JURUS 1  KOMUNIKASI

Komunikasi disini bukan  sekedar tukar informasi, tapi bagaimana membagi perasaan  senang dan sedih. Komunikasi ini memang tidak mudah karena berdasarkan penelitian perempuan  lebih bisa mengungkapkan  perasaan dan pikirannya  dengan baik  dibandingkan suami. Hampir semua keluhan  datangnya dari kaum istri yang mengatakan ketidakmampuan atau ketidaksediaan  suami mengungkapkan  perasaan-perasaannya. Dengan adanya komunikasi dengan pasangan  secara terbuka, berarti kita memahami masalah yang ada sehingga bisa dicarikan solusinya.

JURUS 2   KEPERCAYAAN

Tanamkanlah rasa percaya kepada pasangan. Tanpa adanya  kepercayaan  maka timbulah rasa curiga yang bisa membuat hal sepele  menjadi pertengkaran yang hebat.

JURUS 3   KOMITMEN

Jangan terlalu mengekang pasangan  dan bukan berarti juga memberikan seluruh kebebasan. Disinilah pentingnya ingat akan komitmen  yang pernah dibuat bersama.  Komitmen berarti mendahulukan kepentingan pasangan  diatas kepentingan pribadi.

JURUS 4   JANGAN CEPAT PERCAYA GOSIP

Bila seseorang mengatakan  pasangan anda telah selingkuh, jangan langsung percaya sampai anda melihat langsung hal itu. Jangan emosi, hadapilah hali itu  dengan tenang. Emosi kadang dapat membuat orang kalap sehingga justru akan memperparah keadaan.

http://duniaperempuan.com

Bermula dari pertanyaan sederhana “Perempuan, Apa yang Kau Cari?” sebuah refleksi memperingati Hari Perempuan Internasional 8 Maret oleh Neni Utami Adiningsih, yang dilemparkan Agnes (hi Nes! *waving*). Dan secara singkat dapat saya katakan merupakan penggambaran dari realita sekarang mengenai Ibu bekerja dan masalah pengasuhan anak.

Suatu hal yang menurut saya, tak akan pernah habis diperbincangkan dan diperdebatkan, karena selalu mengundang pro dan kontra. Tulisan mbak Neni (hi mbak! salam kenal), memang cukup kritis, radikal dan potensial “menyentil” kuping pembacanya (khususnya perempuan berkeluarga). Beliau mempertanyakan apa sih sebenarnya motivasi perempuan berkeluarga untuk bekerja, sehingga akhirnya masalah pengurusan dan pengasuhan anak menjadi terbengkalai. Di mana akhirnya anak-anak ini jadi lebih banyak menghabiskan waktu-waktunya tanpa kehadiran kedua orangtua mereka.

Saya sendiri tidak mau mempermasalahkan apa alasan perempuan bekerja. Ada banyak motivasi “mulia” di balik itu, di luar alasan sekedar ingin melarikan diri dari urusan domestik rumah tangga. Banyak yang harus bekerja karena tuntutan ekonomi, karena ingin berkembang, ingin mengaktualisasikan dirinya, ingin berguna untuk lingkungan sekitarnya, ingin mewujudkan cita-citanya. Saya pikir ini adalah hal-hal yang sangat manusiawi.

Yang justru menggelitik saya adalah masalah pengasuhan anak, bukan hanya oleh Ibu bekerja tapi juga Full Time Mommy (FTM). Kita tidak bisa mengeneralisasi bahwa Ibu bekerja tidak becus mengurus anak, banyak kasus seorang FTM tidak menyadari bahwa ia telah melewati masa-masa keemasan perkembangan anaknya. Kenapa? Ada yang mampu, punya uang berlebih, tinggal bayar orang (baca: Baby Sitter (BS)) untuk mengasuh anaknya. Akhirnya kebablasan dan merasa keenakan. Semuanya tinggal tahu beres.

Lalu apa yang selalu digaungkan dan dijadikan senjata Ibu bekerja ataupun FTM, bahwa hari libur adalah hari bersama Ibu (orangtua) dan jargon “yang penting kualitas bukan kuantitas”, kenyataannya juga beberapa kali saya temui hanya omong besar belaka. Terus terang di saat saya dan suami punya waktu untuk mengajak anak kami keluar, saya selalu memperhatikan lingkungan di sekeliling saya. Seperti yang pernah saya temui, seorang anak menjerit2 di mal, sementara Ibunya asik-asik ngopi, anaknya ditenangkan
baby sitter. Di lain waktu saya temui seorang Ibu yang kebingungan tidak tahu ukuran dan merk dot anaknya. Kali lain, saya lihat seorang anak menunggu bersama BS dan driver, menunggu orangtuanya yang sedang makan-makan. Dan itu semua terjadi di hari Sabtu Minggu, yang notabene adalah hari bersama orangtua, hari di mana orangtua katanya ingin menunjukkan kualitasnya bersama anak-anak mereka, kan. Ternyata? jargon-jargon itu mereka telan sendiri. Ada yang bilang, mana ada orangtua yang gak sayang anak-anaknya. Pada kenyataannya yang saya temui berkali-kali di lapangan, itukah yang dinamakan sayang dan cinta di jaman sekarang ini? Itukah yang dinamakan cinta orangtua, ketika anaknya menangis menjerit-jerit, Ibunya cuek aja dengan segelas kopi panasnya yang sedap? Itukah yang dinamakan cinta, ketika BS lebih tahu luar dalam seluk beluk anak sang majikan? Mungkin definisi sayangnya sudah bergeser yah? (kok saya jadi skeptis gini sih :-) )

Sampai-sampai saya pernah berpikir “gimana ya kalau hari Sabtu Minggu,
dijadiin hari bebas BS, bener-bener free campur tangan BS? Hanya kita dan anak, menciptakan sebuah hubungan yang berkualitas. Misalnya pergi tanpa membawa-bawa rombongan sirkus untuk mengasuh anak.” Mungkinkah? Mungkin saja! Hanya 2 hari dari 7 hari dalam seminggu, hanya 8 hari dari 30 hari dalam sebulan, dst. Hanya untuk waktu sesedikit itu, relakah kita tidak memanfaatkannya semaksimal mungkin bersama buah hati kita? Kita bisa bekerja sama dengan suami kan? Bukankah mereka bukan hanya sekedar pencari nafkah, yang tiap bulan setor duit, tinggal tahu beres? Mereka adalah partner “in crime” :-) , mereka adalah sahabat kita dan yang terpenting, mereka adalah ayah dari anak-anak kita yang juga harus bertanggungjawab dengan kehadiran sang buah hati, bertanggungjawab juga dengan pengasuhan anak-anak. Kita harus melakukan ini bersama-sama.

Hal-hal yang saya amati ini, ataupun tuangan pena mbak Neni dalam artikelnya, saya anggap sebagai penggambaran dari kenyataan yang ada sekarang walaupun agak sedikit sarkas dan tidak semua orang mengalaminya. Jangan merasa terpancing untuk marah. Karena hikmahnya, ya untuk membuka mata kita. “Oh, ternyata ada toh realita seperti ini.” Seharusnya ini dijadikan bahan pelajaran, bukannya pengingkaran untuk kemudian menjadi defensif. Jangan malu untuk mengakui, waktu yang saya habiskan untuk mengasuh anak saya sangatlah kurang. Dari pengalaman orang lain kita belajar untuk menjadi lebih bijak, kan?

Apapun pilihan kita, untuk bekerja atapun menjadi FTM, mau pakai jas cantik atau bercelana pendek di rumah (meminjam istilah mbak Ina, hi there! *waving*) jangan sampai anak-anak menjadi terabaikan. Memang akan selalu ada konsekuensi dibalik semua pilihan-pilihan kita, tapi kalau kita punya komitmen yang kuat untuk tidak membuat anak-anak tersisihkan, kita pasti bisa menciptakan waktu-waktu yang berkualitas dengan buah hati kita.

Jadi jika ditanya Perempuan, Apa yang Kau Cari? Jawabannya kembali kepada bagaimana kita memberi makna pada pilihan kita dan keinginan membuat diri kita berarti. Manusiawi kan?

Terimakasih buat We R Mommies Indonesia yang telah memungkinkan diskusi ini ada. Juga buat mommies yang sudah rela meluangkan waktu untuk menuangkan isi pikiran-pikirannya. Walau sempat “menghangat,” saya percaya melalui forum ini kita mendapat banyak pelajaran dan memetik hikmahnya. (Dita)

http://pinodita.blogspot.com

Pencarian
February 2012
M T W T F S S
« Dec    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
272829  
Waktu Sholat
    Waktu Sholat hari ini di
    ....