Posts Tagged ‘perempuan’
Konsep perempuan dalam televisi lambat laun menjadi salah satu konsideran gerakan feminis dunia sebagai pengembangan wacana perempuan dalam media dan perempuan sebagai audiens.
Dalam menganalisa fenomena perempuan dan dunia pertelevisian lewat analisa tanda, para feminis sedikit banyak dipengaruhi pemikiran teori-teori semiotik dari Roland Barthes, Umberto Eco dan Ferdinand de Saussure. Sedangkan untuk kritik ideologinya terdapat pula beberpa pengaruh tokoh marxis seperti Louis Althuisser di Perancis dan Antonio Gramsci di Itali.
Kritik atas Ideologi Televisi
Televisi adalah medium fiktif yang sangat kuat dalam masyarakat kontemporer. Televisi sebagai produk lahir dari hasil kombinasi antara teknologi, industri , serta event ideologis dan politis dalam masyarakat yang oleh Althuiser diklasifikasikan sebagai ‘salah satu perangkat ideologis negara’ (ideological state apparatures). Ideologi dari kelompok dominan ini menurut Gramsci harus diakses lewat media tertentu dan diupayakan agar ‘selama’ mungkin sehingga sulit dilacak.
Program-program acara televisi sebagai salah satu garda kekuasaan (gate-keepers) menjadi perangkat ideologis yang berbahaya karena berbeda dengan buku dan koran, wacana kekuasaan dalam pertelevisian sangat ‘sulit dibaca’. Setiap orang senang nonton televissi, padahal televissi penuh dengan permainan ideologis yang muncul dalam kontradiksi dan penyelesaiannya. Perempuan lalu di intergrasikan dalam cara televisi memandang sebuah perspektif budaya, pada akhirnya perempuan beserta seluruh relasinya ‘diproduksi’ oleh televisi menjadi ‘perangkat ideologi dominan’ tersebut.
Struktur dari kekuasaan sosial dan kontrol ini merambah seluruh kehidupan perempuan baik dewasa maupun remaja. Kesenangan dan hidup perempuan baik itu melalui iklan, melodramaa, acara kuis dan lainnya akhirnya di determinasikan, tanpa memberi kesempatan bagi perempuan untuk mengkontruksikan makna yang barasal dari dirinya sendiri. Dalam televisi perempuan cenderung diharapkan menjadi partisipasi periferal sebuah budaya.
Caren J. Deming mendeteksi problem dari pengalaman perempuan dan visi dari ‘narasi dominan’ yaitu para eksekutif laki-laki. Yang jadi pertayaan sekaligus kritik terhadap dunia televisi adalah ‘fiksi siapah ini?’ dan ‘kultur apa yang mereka sajikan?’. Televisi seolah menyajikan kehidupan sosial perempuan yang sebenarnya, bagaimana karakter perempuan yang seharusnya serta bagaimana perempuan harus ‘berpenampilan”. Namun nyatanya itu semua hanya kehidupan dalam dimensi fantasi. Karena itu perempuan harusnya menolak kebenaran yang dicetak oleh angan-angan dan terminologi laki-laki dalam dunia pertelevisian.
Cinta dalam ‘Kotak Idiot’
Caren J, Deming dalam kritiknya terhadap televisi mengumpat bahwa cinta dalam romantikan Amerika menurut versi kotak idiot (televisi) sebagai problematika sosial baik dalam melodrama maupun komik karena bersifat mengecoh dan selalu berupaya agar perempuan ‘tetap diam di tempatnya’, seperti di dapur dan di kamar tidur. Karakter tokoh perempuan juga sangat jauh dari realita dan hampir tidak mungkin terjadi dalam dunia nyata. Misalnya tokoh jahat Alexis dalam film seri ‘Dallas’, ketika diadakan survey, hampir seluruh responden menyatakan bahwa dalam dunia nyata karakter seperti Alexis tidak mungkin ada.
Paling tidak ada tujuh modus dunia pertelevisian yang berdampak merugikan bagi kaum perempuan, antara lain:
1. Mengartikulasikan garis besar dominasi kultur yang mapan tentang hakikat dari realitas.
2. Mengimplementasikan kultur individual ke dalam sistem nilai-nilai dominan.
3. Merayakan kultur individual yang dianggap representatif ke dalam dunia ‘di luar sana’.
4. Menyakinkan bahwa kebudayaan dominan sudah dikonfirmasikan lewat ideologi dan mitologi sehingga cukup sahih untuk dipresentasikan di layar kaca.
5. Meng-ekspos rasa dari budaya itu sendiri yang menjadi hasil dari kondisi dari budaya yang berubah pada dunia ‘di luar sana’.
6. Menyamakan status pihak dominan dan identitas individu yang dijamin oleh budaya secara keseluruhan.
7. Menstransmisikan makna-makna yang diproduksi ini ke segenap anggota masyarakat secara lebih luas.
Perempuan dan Konsep Keluarga menurut Iklan
Bagaimana TV mendefiniskan budaya perempuan, hampir tidak pernah lepas dari ‘konsep keluarga’. Karenanya, dalam pertelevisian, perempuan menjadi identik dengan kehidupan keluarga. Televisi membujuk kaum perempuan agar bersikap kompromis dengan kesimpulan yang ditawarkan, perempuan diajak untuk ‘terobsesi’ pada hidup keluarga, emosi perempuan juga didefinisikan oleh kondisi psikis para eksekutif laki-laki yang bertengger di belakang iklan serta cara-cara televisi itu. Ini berarti dalam dunia pertelevisian perempuan telah terkooptasi oleh imaginasi maskulinitas.
Sudah saatnya perempuan bersikap kritis dan menyadari bahwa dalam televisi, kepentingan perempuan terperangkap lagi. Peran-peran perempuan di sana menjadi ambigu. TV komersial menginginkan perempuan bukan sebagai perempuan, tetapi sebagai pengkonsumsi iklan. TV komersial menjadi bagian intergral dari dunia belanja modern. Perempuan oleh industri TV ‘bisa diprediksi’. Industri TV modern dengan mudahnya mencetak perempuan yang ‘terprediksi’ dan perempuan lalu menjadi ‘ibu yang terpogram’. Ia identik dengan komoditas barang tertentu, misalnya sabun cuci merek anu, atau perhiasan merk anu, bahkan ia sudah ditentukan akan membeli barang di tempat tertentu. Ketika ia memiliki anak, televisi juga telah memprogram dia untuk membiarkan anaknya menonton film kartun seperti Power Rangers dan Winnie the Pooh dan selanjutnya membeli pernik-pernik lain dengan karakter yang sama dengan film kartun tersebut.
Televisi sesungguhnya tidak menampilkan kebutuhan perempuan, tapi justru kebutuhan dari para pengiklan (advertisers). Karenanya perempuan harus di set-up dalam terminologi laki-laki sekalgus agar mendukung kepentingan para pengusaha tersebut, perempuan harus mengorientasikan hidupnya melulu pada keluarga, serta berorientasi pada masyarakat yang konsumtif. Perempuan kian direfleksikan dalam pembagian gender yang tidak adil dalam masyarakat. Sementara program-program yang terkooptasi dalam terminologi laki-laki dan masalah tersubordinatnya peran perempuan dalam keluarga justru tidak pernah dipertanyakan.
(Disarikan dari ‘Televisioan and Women’s Culture, The Politics of the Popular’ editor: Marry Ellen Brown)
http://partisipasiperempuan.uni.cc